Desain penelitian studi kasus: Pengalaman empirik

Rahardjo, Mudjia (2017) Desain penelitian studi kasus: Pengalaman empirik. Disampaikan pada mata kuliah Metodologi Penelitian, Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. (Unpublished)

[img]
Preview
Text (Full text)
desain.pdf

Download (277kB) | Preview

Abstract

Karena paradigma, proses, metode, dan tujuannya berbeda dengan metode penelitian yang lain, desain penelitian Studi Kasus berbeda dengan desain penelitian kuantitatif, tetapi kurang lebih sama dengan desain penelitian kualitatif pada umumnya. Tidak ada pola baku tentang format desain penelitian Studi Kasus, sebab; (1) instrumen utama penelitian adalah peneliti sendiri, sehingga masing-masing orang bisa memiliki model desain sendiri sesuai seleranya, (2) proses penelitian Studi Kasus berlangsung secara siklus, sebagaimana penelitian-penelitian kualitatif pada umumnya, dan (3) metode penelitian Studi Kasus berangkat dari kasus atau fenomena tertentu yang dianggap akan memberikan pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Desain penelitian itu sendiri apa? Desain penelitian pada hakikatnya merupakan rencana aksi penelitian (action plan) berupa seperangkat kegiatan yang berurutan secara logis yang menghubungkan antara pertanyaan penelitian yang hendak dijawab dan kesimpulan penelitian yang merupakan jawaban terhadap masalah penelitian. Di beberapa buku tentang metodologi peneletian, desain penelitian diartikan sebagai rencana yang memandu peneliti dalam proses pengumpulan, analisis, dan interpretasi data. Ada juga yang mendefinisikan desain penelitian sebagai blueprint (cetak biru) penelitian, yang mencakup setidaknya empat hal, yaitu: pertanyaan penelitian apa yang hendak dijawab, data apa saja yang relevan dengan pertanyaan penelitian tersebut, data yang dikumpulkan seperti apa dan dengan cara apa, dan bagaimana menganalisisnya.

Perlu disadari pula bahwa desain penelitian bukan sekadar rencana kerja. Tujuan utama desain penelitian ialah untuk membantu peneliti agar terhindar dari data yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pertanyaan penelitian. Ini perlu ditegaskan karena sering ditemukan peneliti memperoleh data yang tidak ada hubungannya dengan fokus penelitian sehingga kesimpulan penelitiannya tidak menjawab pertanyaan yang diajukan. Desain penelitian terkait hal-hal yang logis (logical problems), bukan hal-hal yang bersifat logistik (logistical problems). Sebagai sebuah rencana, desain penelitian menurut Morse (Denzin dan Lincoln, 1994: 222) mencakup banyak unsur, meliputi pemilihan situs dan strategi penelitian, persiapan penelitian, menyusun dan memperbaiki pertanyaan penelitian, menyusun proposal, dan jika perlu memperoleh ijin penelitian dari lembaga yang berwenang mengeluarkannya.

Berkaitan dengan tipologi penelitian Studi Khusus, Yin (1994: 21) mengajukan lima komponen penting untuk penyusunan desain penelitian Studi Kasus, yaitu: (1) pertanyaan-pertanyaan penelitian; (2) proposisi penelitian (jika diperlukan), Proposisi ini diperlukan untuk memberi isyarat kepada peneliti mengenai sesuatu yang harus diteliti dalam lingkup studinya; (3) unit analisis penelitian, (4) logika yang mengaitkan data dengan proposisi,dan (5) kriteria untuk menginterpretasi temuan. Komponen 1-3 membantu peneliti dalam mengumpulkan data. Sedangkan komponen 4-5 membantu peneliti dalam langkah-langkah analisis data.

Pertanyaan penelitian sebagai komponen pertama. Di muka telah dijelaskan jenis pertanyaan yang tepat untuk penelitian Studi Kasus, yakni “bagaimana” dan “mengapa”, selain “apa”. Semua pertanyaan tersebut mengarah kepada kasus yang hendak diangkat. Misalnya, tentang pengambilan keputusan oleh seorang pimpinan perusahaan, tentang program kerja, implementasi atau pelaksanaan program, dan perubahan organisasi.

Komponen kedua ialah proposisi penelitian. Proposisi terkait dengan kecakapan peneliti menganalisis data. Sebagaimana diketahui tata urutan proses penelitian Studi Kasus dan penelitian kualitatif pada umumnya ialah perolehan data, data diolah untuk menjadi fakta/realita/ untuk selanjutnya menjadi konsep/ konsep menjadi proposisi, dan proposisi menjadi teori.

Komponen ketiga ialah unit analisis. Komponen ketiga ini merupakan persoalan fundamental dalam menentukan apa “kasus” yang diteliti. Di metode penelitian kuantitatif, unit analisis disebut sebagai “objek” penelitian. Umpama peneliti akan meneliti seseorang yang memiliki perilaku menyimpang dari orang-orang pada umumnya dalam interaksi sosial. Unit analisisnya adalah individu, sehingga segala informasi tentang individu tersebut wajib dikumpulkan selengkap mungkin.

Komponen keempat dan kelima biasanya kurang memperoleh perhatian peneliti Studi Kasus. Komponen ini menyajikan tahap analisis data, dan desain penelitian harus menjadi dasar analisis. Desain penelitian yang tepat akan memudahkan peneliti bisa sampai tujuan penelitian dengan tepat pula. Terkait dengan komponen kelima, yakni kriteria untuk menginterpretasi temuan penelitian hingga kini tidak ada pola yang baku. Tetapi Campbell, sebagaimana dikutip Yin, menyarankan dengan cara mengkontraskan dan membandingkan pola-pola yang berbeda yang telah ditemukan. Dengan mengkontraskan dan membandingkan, akan ditemukan temuan konseptual sebagai tujuan akhir penelitian.

Item Type: Teaching Resources
Divisions: Faculty of Humanities > Department of English Language and Letters
Depositing User: Faizuddin Harliansyah
Date Deposited: 14 Feb 2017 07:15

Downloads

Downloads per month over past year

Origin of downloads

Actions (login required)

View Item View Item