Wasiat khilāfah pada Ali bin Abi Thalib: Studi komparatif hadis Ghadīr Khum dalam tradisi Sunni dan Syiah

Afwadzi, Benny (2014) Wasiat khilāfah pada Ali bin Abi Thalib: Studi komparatif hadis Ghadīr Khum dalam tradisi Sunni dan Syiah. Hermeneia: Jurnal Kajian Islam Interdisipliner, 14 (1). pp. 27-49. ISSN 1412-8349

[img]
Preview
Text
Wasiat Khilafah pada Ali bin Abi Thalib.pdf

Download (1MB) | Preview

Abstract

This article talks about the Ghadīr Khum’s hadith contained in the collection of Sunni and Shia and its interpretation. Ghadīr Khum’s hadith (man kuntu maulāhu fa ‘aliyyun maulāhu) is one of the arguments among Shia that Ali> bin Abi> T{a>lib was the leader after the Prophet Muhammad died. This hadith contained in the Sunni and Shia collections and even regarded as authentic hadith and mutawātir. More away, there are some differences between Sunni and Shia, first, they have a different paradigm in understanding the last will of al-khilāfah. Shia believe that the Prophet had given the last will to Ali>, but the Sunni do not believe it; second, grounded in this paradigm, the Shia interpret the word 'maulā' as the leader, while the Sunnis away from that interpretation; third, in the Sunni’s hadith collections are written briefly, but in the long collection of Shia disclosed and added to the virtues of Ali>; fourth, most of the Ghadīr Khum’s hadith stored in a Sunni rather than Shia tradition; and fifth, riwayah bi al-ma'na that occurred in the Sunni collections only expressed by the words maulā and walī, while the Shia have three types of words, namely maulā, walī, and amīr

Artikel ini berbicara mengenai hadis Ghadīr Khum yang termuat dalam koleksi-koleksi Sunni dan Syiah serta bentuk-bentuk interpretasinya. Hadis Ghadīr Khum (man kuntu maulāhu fa aliyyun maulāhu) merupakan salah satu argumentasi kalangan Syiah bahwa Ali> bin Abi> T{a>lib adalah pemimpin setelah Nabi Muhammad meninggal. Hadis ini termuat dalam koleksi-koleksi Sunni maupun Syiah dan dianggap sebagai hadis s}ah}īh} bahkan mutawātir. Lebih jauhnya, ada beberapa perbedaan antara Sunni dan Syiah, pertama, mereka mempunyai paradigma yang berbeda dalam memahami wasiat al-khilāfah. Syiah percaya bahwa Nabi telah memberikan wasiat pada Ali>, tetapi Sunni tidak percaya hal itu; kedua, berpijak pada paradigma tersebut, maka Syiah menafsirkan kata maulā sebagai pemimpin, sedangkan Sunni menjauhi penafsiran itu; ketiga, dalam koleksi Sunni hadis tersebut ditulis secara singkat, tetapi dalam koleksi Syiah diungkapkan secara panjang dan ditambahi dengan keutamaan-keutamaan Ali>; keempat, kebanyakan hadis Ghadīr Khum tersimpan dalam tradisi Sunni daripada Syiah; dan kelima, riwāyah bi al-ma’nā yang terjadi dalam koleksi Sunni hanya diekspresikan dengan kata maulā dan walī, sementara Syiah memiliki tiga jenis redaksi, yaitu maulā, walī, dan amīr

Item Type: Journal Article
Additional Information: Artikel ini tidak bisa ditelusuri secara inline karena Jurnal Hermeneia sekarang kemungkinan besar sudah tidak ada yang mengurusi.
Subjects: 22 PHILOSOPHY AND RELIGIOUS STUDIES > 2204 Religion and Religious Studies > 220403 Islamic Studies
Divisions: Faculty of Tarbiyah and Teaching Training > Department of Islamic Education
Depositing User: Benny Afwadzi
Date Deposited: 01 Feb 2016 08:04

Downloads

Downloads per month over past year

Origin of downloads

Actions (login required)

View Item View Item