Sa`diyah, Halimatus
ORCID: https://orcid.org/0000-0003-3519-4290
(2026)
Tantangan mewujudkan pembelajaran humanis di era digital.
In:
Membangun pembelajaran yang humanis dan kontekstual.
PT SRIKANDI BOOKS PRESS, Sumatera Barat, pp. 217-234.
ISBN 978-634-04-8080-1
UNSPECIFIED : UNSPECIFIED.
|
Text
27665.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (727kB) | Request a copy |
Abstract
Dalam dua dekade terakhir ini, teknologi digital mengalami
perkembangan signifikan terhadap rekonstruksi sisi-sisi kehidupan
manusia, termasuk di bidang pendidikan. Platform pembelajaran
berbasis daring, gelombang digitalisasi yang ditawarkan oleh internet
kecepatan yang tinggi, kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence),
transformasi dari sistem management pembelajaran (LMS) serta big
data telah memunculkan model interaksi serta cara berpikir yang baru
dan berbeda pada proses kegiatan pembelajaran. Dalam bidang
pendidikan, pertemuan pembelajaran tidak lagi terjadi di ruang kelas
secara fisik saja, tetapi terus mengarah pada pola belajar mengajar yang
terkoneksi secara virtual, terjadi sepanjang waktu dan lebih fleksibel
(2023, 2021)(Anjos et al., 2024). Perubahan yang terjadi tersebut
menjadikan proses kegiatan pembelajaran memasuki tahapan yang baru
dan disebut dengan era digitalisasi, yang kemunculannya ditandai
dengan terciptanya integrasi antara manusia, konten dan teknologi.
Tidak dapat dipungkiri, bahwa perkembangan tersebut
menyuguhkan berbagai peluang, seperti proses pembelajaran yang
efektif, transformasi pengetahuan yang tanpa batas ruang dan waktu
serta adanya kemampuan untuk membuat penyesuaian antara materi
dengan kebutuhan para peserta didik. Namun, dibalik peluang itu,
digitalisasi juga menyimpan serangkaian problematika yang mendalam
(Sriyanta, 2023). Problematika itu tidak hanya secara teknis, melainkan
juga berhubungan dengan ranah kemanusiaan dalam bidang
pendidikan.
Sebagimana diketahui, bahwa pendidikan merupakan ruang
untuk bertemu antar manusia yang melibatkan relasi, makna, interaksi,
nilai dan emosi. Jadi, pendidikan bukan hanya sekedar proses untuk mentransfer ilmu pengetahuan. Disamping itu, pergerakan digitalisasi
yang cepat memicu rasa khawatir akan munculnya dehumanisasi, yaitu
sebuah situasi di saat berbagai aspek kemanusiaan mengalami
kelemahan yang disebabkan oleh minimnya perhatian kepada manusia
dibandingkan dengan perhatian yang besar pada kecanggihan teknologi
(2023, 2021).
Para
akademisi telah menyoroti terjadinya paradigma
pendidikan yang bergeser dari pembelajaran berpusat pada guru (teacher
centered) mengarah berpusat pada teknologi (technology centered) (Atibuni
et al., 2022). Perubahan tersebut menimbulkan sebuah pertanyaan yang
fundamental, yaitu “Bagaimana memverifikasi bahwa dunia pendidikan
tetap menjalankan tujuan humanisasi di tengah pusaran digitalisasi yang
dahsyat?” Orientasi utama dari pendidikan humanis adalah dialog, nilai
empati, aktualisasi diri, kebebasan berpikir serta pemberian apresiasi
pada keunikan yang dimiliki oleh setiap individu (peserta didik) (Buck
& Longa, 2020). Namun, apabila proses kegiatan belajar mengajar itu
terikat pada sistem yang spontan, interaksi yang tidak utuh, dan
komunikasi yang bertumpu pada display perangkat elektronik, maka
nilai-nilai yang terkandung pada pendidikan humanis berpotensi untuk
pudar dan musnah.
Dinamika model interaksi yang terjadi pada kegiatan
pembelajaran digital berdampak secara signifikan pada relasi pedagogis
antara guru dan peserta didik (Digital-gesellschaft et al., 2026). Kelas
yang pembelajaran sebelumnya sarat dengan pergerakan jalinan
komunikasi secara langsung, kesadaran afektif, bahasa tubuh, ekspresi
wajah dan kontak mata, kemudian berganti dengan dialog dan
pertemuan menggunakan layar yang memiliki keterbatasan serta kurang
leluasa. Pertemuan melalui ruang digital/virtual menimbulkan kondisi
yang kurang spontan, cenderung terstruktur, resmi dan terkesan kaku.
Dalam penelitian disebutkan bahwa pembelajaran secara online
memunculkan diskoneksi emosional (emotional disconnection), yaitu guru
mengalami kesulitan untuk mengidentifikasi keadaan psikologis setiap
peserta didik, begitu pula peserta didik mengalami kesulitan untuk
menyadari keberadaan gurunya secara utuh (Haq et al., 2024).
Lebih jauh lagi, eksistensi teknologi juga menimbulkan distres
psikologis, seperti munculnya depersonalisasi, gangguan atensi belajar
akibat media sosial, beban kognitif karena multitasking, serta kelelahan
akibat perangkat digital (digital fatigue) (Thohiroh, 2024). Dalam kondisi
tersebut, peserta didik menganggap bahwa dirinya hanya sebagai “profil daring” pada sebuah sistem virtual, bukan merasa sebagai individu yang
berkarakteristik
unik.
Situasi
tersebut
mempertegas untuk
memprioritaskan dan menjaga asas-asas humanistik secara konsisten
pada proses kegiatan belajar mengajar, supaya ikatan kemanusiaan dan
emosional
tetap
tercipta,
walaupun
diimplementasikannya
menggunakan media dan ruang digital.
Peralihan pembelajaran ke arah digital juga menimbulkan
tantangan di ranah pedagogis. Kemajuan teknologi tidak senantiasa
selaras dengan kapasitas kesiapan guru untuk mengaplikasikan metode
yang memfokuskan personalisasi, dialog dan partisipasi pembelajaran.
Penggunaan metode pembelajaran yang mengandung unsur pemberian
informasi monologis menjadi pilihan praktis bagi guru yang secara
teknis merasa terbebani. Apabila hal tersebut terjadi, maka makna
pendidikan berpotensi mengalami penyempitan, karena pelaksanan
proses pembelajaran dengan berbantu digital disampaikan dalam
keadaan yang miskin komunikasi, refleksi dan interaksi (Ifenthaler et
al., 2023). Sedangkan, pendidikan yang humanis itu menjunjung urgensi
dari kehadiran, keteladanan, dan eksperiensia belajar yang berorientasi
pada makna (Aarto-Pesonen & Piirainen, 2020).
Disamping tantangan pedagogis dan relasional, terjadi pula
problem keadilan dan aksesibilitas pendidikan. Di negara yang sedang
berkembang, isu terkait ketimpangan digital (digital divide) menjadi
masalah krusial (Mutaqin et al, 2025). Terjadinya pengalaman belajar
yang tidak merata antar peserta didik disebabkan perbedaan pada
ketersediaan literasi dan kompetensi digital, kapasitas koneksi internet
serta status ekonomi. Peserta didik yang berasal dari keluarga yang
memiliki ekonomi mapan dapat memakai fasilitas yang terbaru,
sebaliknya peserta didik mengalami kesulitan untuk menjangkau materi
pelajaran dikarenakan kuota internet yang terbatas. Keadaan tersebut
memperparah keterpurukan kualitas dari pendidikan dan berpeluang
menjadi penghambat pada pelaksanaan pendidikan humanis, yaitu
pemberian kesempatan untuk belajar secara merata.
Selain tantangan yang disebutkan di atas juga terjadi tantangan
yang berikutnya yaitu tantangan etika digital. Pemanfaatan digital
seperti AI pada dunia pendidikan melahirkan beberapa pertanyaan
terkait dengan transparansi informasi privasi pada data keamanan serta
bias pada algoritma. Jejak digital yang ditinggalkan oleh peserta didik
ketika mengikuti pembelajaran dengan memanfaatkan platform digital
dapat disalahgunakan oleh berbagai pihak tertentu (Putu & Arima2024). Di samping itu pemanfaatan AI untuk ujian atau assessment secara
otomatis ataupun rekomendasi pada pembelajaran dapat menimbulkan
resiko yang mengurangi peran serta dari manusia ketika pengambilan
keputusan di pendidikan. Padahal dalam pembelajaran humanistik hal
tersebut menjadi problematis tersendiri dikarenakan keputusan pada
pendidikan seharusnya dapat mempertimbangkan berbagai aspek
seperti konteks sosial, nilai serta tanggung jawab moral yang tidak hanya
berpedoman pada algoritma.
Berbagai problematika tersebut menegaskan bahwa teknologi
yang diintegrasikan pada dunia pendidikan tidak hanya dipandang
sebagai sebuah proyek dari modernisasi secara teknis. Namun
perubahan dari digital justru membutuhkan sebuah refleksi yang
mendalam terkait dengan bagaimana manusia itu belajar berinteraksi
serta bagaimana pendidikan itu dapat memelihara berbagai nilai
kemanusiaan di tengah arus perubahan era.
Dengan demikian di sinilah urgensinya untuk menelaah lebih
jauh terkait dengan tantangan untuk mewujudkan pembelajaran yang
humanis di era digital. Hal ini dilakukan tidak untuk menghindari dan
menolak keberadaan teknologi, melainkan sebagai upaya untuk lebih
memastikan bahwa teknologi dan digital itu berada dalam posisi sebagai
pengendali nilai-nilai kemanusiaan.
| Item Type: | Book Section |
|---|---|
| Keywords: | Pembelajaran, humanis, era digital |
| Subjects: | 13 EDUCATION > 1301 Education Systems > 130103 Higher Education 13 EDUCATION > 1302 Curriculum and Pedagogy > 130212 Science, Technology and Engineering Curriculum and Pedagogy 10 TECHNOLOGY > 1099 Other Technology |
| Divisions: | Faculty of Psychology |
| Depositing User: | Halimatus Sa`diyah |
| Date Deposited: | 03 Jul 2026 14:44 |
Downloads
Downloads per month over past year
Origin of downloads
Actions (login required)
![]() |
View Item |

Altmetric
Altmetric